Tidak usah dibandingkan, Saya hebat dan saya sudah berusaha.


OPINI

-Ketika kita membandingkan anak, kita yang mengajarkan anak berusaha mengalahkan anak lain. Kita yang mengajarkan anak bahwa untuk dihargai harus mendapatkan posisi terbaik. Jadi jangan salahkan ketika kita tidak dihargai oleh yang lebih muda, karena menurut mereka kita bukan yang paling baik-

“Mosok bu, aku senengane dibandike karo masku. Kamu belajar yang baik, biar bisa kuliah diyempat bagus kaya kakakmu”
“Nek aku enggak bu, soale mas ku nakal”
“Yaudah kalau kita dibandingin sama anak orang, kita bales lah dibandingin. Ah mama gak cantik, cantikan mama tetangga”
“Bu katanya kelas ini rame, gak kaya kelas sebelah”

Kata-kata lucu lucu karena anak merasa dibandingkan dengan anak lainnya. Harus kita bangga mereka begitu kreatif dan menyenangkan. Hampir tiga bulan sepertinya saya menjadi guru. Banyak cerita yang saya dapatnkan dari siswa-siswi hebat saya disekolah, entah secara tidak langsung atau melalui pancingan yang saya berikan. Cerita yang sering muncul diantaranya galau masalah cinta, hal lucu apa yang mereka alami dan banyak hal. Akan tetapi satu cerita yang sepertinya dapat menjadi koreksi pribadi bagi diri maupun orang dewasa lainnya yaitu ketika anak-anak kita sering merasa dibandingkan dengan anak lain. Paling sering terdengar adalah ketika anak merasa dibandingkan dengan temannya karena nilainya, sikapnya, atau pola belajar anak. Bisa dipahami apa yang dinginkan oleh orang dewasa untuk anak-anaknya adalah harapan terbaik agar anaknya sukses dan bahagia. Akan tetapi jangan kita lupakan apakah tuntutan kita untuk anak-anak adalah hal terbaik bagi mereka?
Sadarkah kita sebagai orang dewasa yang tumbuh melalui system pendidikan yang kompetitif, memaksa, dan jarang melihat individu sebagai manusia yang utuh mewariskan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak kita. Kita seringkali menganggap bahwa anak yang baik yaitu anak yang memiliki segudang presatasi, memiliki nilai mata pelajaran yang baik, dan mereka adalah anak-anak nomor satu dibandingkan dengan anak lainnya. Namun kita seringkali lupa bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak dengan segala kesempurnaan, akan tetapi dengan kelebihan dan kekurangan masing masing agar kita saling berkolaborasi dan melengkapi.
Tulisan ini saya buat ketika saya menununggu anak-anak melasanakan TPMBK hari Kamis lalu, sekalian itu saya juga sedang membaca buku “Merdeka di Ruang Kelas” salah satu kalimat didalamnya mengatakan bahwa pengalaman belajar siswa yang dituntut untuk mendapatkan nilai tinggi ternyata hanya bagian dari belajar jangka pendek. Arti dari kalimat tersebut bahwa siswa belajar untuk mendapatkan nilai yang baik, bukan karena siswa merasa butuh akan belajar. Jika siswa memiliki kesadaran penuh untuk belajar bukan karena tuntutan, bukan karena takut dibanding bandingkan dengan temannya di sekolah atau dirumah, siswa akan belajar tanpa diminta. Jika anak sudah memiliki kesadaran belajar maka mereka tanpa diminta akan terus belajar, mencoba, mencari buku-buku yang menarik minatnya, dan akan selalu haus akan pengetahuan yang sudah ada. Sikap tersebut muncul karena keinginan diri bukan karena faktor eksternal karena takut dibandingkan dengan kawannya yang lain.
Refleksi bagi orang dewasa yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pendidikan anak, kita tidak bisa menyalahkan siswa secara lansung mengapa ia enggan atau tidak tertarik untuk belajar. Kita lihat juga bagaimana peran kita sebagai guru atau orang dewasa sudah mampu memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan kemauan untuk belajar? Sudahkan kita membantu mereka menemukan jati dirinya? Sudahkah kita menumbuhkan rasa ingin tau dalam diri anak? Sudahkah kita mengenal mereka dan apa keinginnanya? Atau jangan-jangan selama ini kita masih menjadi manusia egois yang menganggap bahwa keberhasilan anak hanya seputar kompetisi mendapatkan nilai tertinggi dan kompetisi menjadi orang yang paling berhasil di mata orang banyak. Keberhasilan seseorang tidak hanya terletak pada keberhasilan materiil saja, akan tetapi keberhasilan rohani untuk menjadi manusia yang seutuhnya juga tidak kalah penting.

Ide tulisan ini muncul dari tulisan tangan ketika menjadi pengawas TPMBK.
Yogyakarta, 21 November 2019
(telat publish karena baru sempet ngetik hehe)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa kurikulum perlu berubah?

"Enak ya Pak jadi anak-anak". Percakapan dengan Pak Yoyok