Bolak balik hidup
Hidup di dunia ini, ku pikir semuanya serba terbalik.
Bagaimana tidak,
orang-orang lebih tau mengucapkan selamat atas keberhasilan. Namun menjadi
bingung ketika harus menenangkan orang yang sedang ada pada titik terendahnya. Orang-orang
pandai mengadakan acara ceremonial yang membahagiakan, akan tetapi tidak tau
cara mengupayakan kebahagiaan. Sebenanya hari ini aku menulis karena tidak
bahagia, sudah lama rupanya aku tidak merasa bahagia yang memang aku bahagia.
Pagi ini
aku membaca bahwa aka nada penganugrahan prestasi, ikut berbahagia atas
prestasi yang di raih orang-orang. Turut berbela sungkawa terhadap orang-orang
yang tidak pernah merasa berprestasi dalam hidupnya. Jangan berkecil hati,
dilain kesempatan kamu juga akan menghasilkan sebuah prestasi. Paling tidak kamu
sudah berupaya dan berproses.
Sisi lain
otakku mengatakan, halah ngapusi. Orang-orang tidak akan melihat prosesmu, orang-orang
hanya senang melihat hasilmu. Kalau hasilmu bagus yaaa kamu di selamati, kalau
hasilmu jelek ya koe digoblok-goblokke. Jangan bilang tidak, ku pikir semua
orang pernah merasakan. Merasa bahagia dan bagai akan pencapaian positif, dan
merasa akan gila karena gagal.
Bagaimanapun
perasaan itu akan timbul karena orang lain di sekitarmu. Jangan pernah lupa
bahwa manusia itu makhluk social, jadi jangan pernah lupa semua sebab akibat
yang ada dihidupmu itu juga karena orang-orang di sekitarmu. Jika ada orang
yang berhasil, maka banyak orang yang ikut claim bahwa saya juga merupakan
orang yang berperan dalam kehidupannya. Akan tetapi, jika orang mengalami
depresi, orang-orang tidak mau tau bahwa orang disekitarnya juga memiliki andil
sebagai penyebab depresinya. Atau menurut orang-orang hal tersebut karena orang
tersebut kurang mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dia tidak bisa memanajemen
dirinya. Sungguh memang jahat. Namun, jangan lupakan bahwa orang lain tidak dapat melihat pikiran kita. Kita sendirilah yang harus memanajemen diri kita.
Tulisan ini di buat selama bulan Agustus 2019. Saat saya melihat timeline twiter banyak orang sedang graduation dan menikah. Saya sendiri masih pada waktu itu masih pada posisi memperjuangkan skripsi saya. Hari ini tanggal 26 Agustus akhirnya saya berani mempublikasikan. Karena saya sudah bisa berfikir tiap manusia akan berkembang dan mencapai puncaknya masing masing. Kita tidak dilahirkan bersama, dan kita tidak akan mati bersama. Untuk itu jangan berkecil hati ketika teman kita sudah mencapai puncak kebahagiaan sedangkan kita masih berjuang. Keep positively.
Tulisan ini di buat selama bulan Agustus 2019. Saat saya melihat timeline twiter banyak orang sedang graduation dan menikah. Saya sendiri masih pada waktu itu masih pada posisi memperjuangkan skripsi saya. Hari ini tanggal 26 Agustus akhirnya saya berani mempublikasikan. Karena saya sudah bisa berfikir tiap manusia akan berkembang dan mencapai puncaknya masing masing. Kita tidak dilahirkan bersama, dan kita tidak akan mati bersama. Untuk itu jangan berkecil hati ketika teman kita sudah mencapai puncak kebahagiaan sedangkan kita masih berjuang. Keep positively.
Komentar
Posting Komentar